Rasanya ingin sekali bersembunyi, berlari, bahkan menghilang hingga Tari tak bisa melihatku lagi.
Sungguh aku tak tahan dengan tatapan sinisnya yang ia tujukan padaku, walaupun secara tidak langsung, aku tahu dia masih membenciku. Dari sikapnya, setiap ucapannya, raut wajahnya semua sudah cukup untuk menjadikan dugaanku menjadi sebuah kenyataan. Dulu semasa SD dia adalah satu – satunya sahabat bagiku. Sungguh masa yang indah ketika ku lalui hari bersama Tari, Mentari. Sesuai namanya, dia menghangatkan hariku yang beku. Dia bagai panas yang mencairkan bekunya esku.
Sungguh aku tak tahan dengan tatapan sinisnya yang ia tujukan padaku, walaupun secara tidak langsung, aku tahu dia masih membenciku. Dari sikapnya, setiap ucapannya, raut wajahnya semua sudah cukup untuk menjadikan dugaanku menjadi sebuah kenyataan. Dulu semasa SD dia adalah satu – satunya sahabat bagiku. Sungguh masa yang indah ketika ku lalui hari bersama Tari, Mentari. Sesuai namanya, dia menghangatkan hariku yang beku. Dia bagai panas yang mencairkan bekunya esku.
Tapi saat itu datang, sungguh sebuah mimpi buruk yang paling menakutkan dan nyata bagiku hingga aku menginjak bangku kedua di SMP. Waktu itu setelah kelulusan SD, aku meninggalkan Tari di pasar malam. Sungguh aku bukan mau meninggalkan tapi aku terpiah dengan Tari, ku kira aku sedang berjalan bersama Tari setelah aku sadari ternyata aku hanya berjalan seorang diri. Sedangkan Tari entah berjalan ke mana. Aku berputar – putar sampai berkali – kali mencarinya di tengah keramaian tapi nihil. Aku menunggunya di pintu keluar samapi orang tuaku menjemput karena sudah terlalu malam untuk anak SD. Kami sama – sama tak punya hp dan aku hanya bisa berpikiran positif mungkin Tari juga sudah dijemput. Padahal tadinya kami sudah janji pulang bersama dijemput ayahku. Aku sungguh sangat lelah.
Hingga keesokkan harinya Tari marah – marah padaku, meninggalkannya sendirian dan kami cuma bisa beradu argumen berusaha menjadi yang benar. Dan akhirnya kami hanya saling mendiamkan satu sama lain. Hubunganku dengan Tari belum normal lagi, ditambah masalah baru. Entah bagaimana bisa uang sekolah Tari hilang dan keesokan harinya ditemukan uangnya berada di tasku ! Sungguh bukan aku pelakunya. Bu guru memang tidak menghukumku hanya memanggil orangtuaku dan meminta kami minta maaf pada Tari. Dan sebagai tumbalnya, persahabatnku dengan Tari benar – benar retak. Orangtua Tari juga melarangnya bermain lagi denganku. Dan aku mendapat cap jelek yang terus melekat ketika masuk SMP karena banyak teman – teman yang satu SD denganku. Aku yakin Tari tak pernah menjelekkanku di depan orang lain. Tapi semua tetap sama, nasi sudah menjadi bubur itulah peribahasanya.
***
“Bu, aku boleh pindah sekolah saja?” Tanyaku pada Ibuku yang tengah menjahit bajuku yang sudah robek. Aku tahu Ibuku masih sanggup membelikanku seragam baru tapi lebih baik uang itu untuk simpanan Ibu kalau sewaktu – waktu Ibu kehabisan uang belanja. Yah inilah hidup, ada yang di atas ada yang di bawah, ada yang di tengah atau diantaranya. Dan kami termasuk kelas menengah ke bawah. Bapak seorang petani dan Ibu seorang penjahit pakaian. Menggunakan mesin jahit peninggalan nenek. Keadaannya seperti itu ya terima saja.
“Loh, kenapa toh? Masih karena hal yang sama? Karena Tari?” Tebak Ibu langsung. Ya Ibu memang sudah tahu tentang ini karena aku sering mengeluh pada Beliau tentang hal yang sama. Dan selalu saja Ibu meladeni keluhanku dan memberikan kekuatan. Kadang Bapak juga sekiranya ketika Beliau sedang ada di situ juga.
“Iya, Bu. Yani nggak tahan. Teman Yani sedikit, jarang yang nyapa atau minta bantuan Yani. Sebenarnya kalau mereka mau nyontek ulangan Yani kasih. Kalau Yani bisa”.
“Yani harus semangat dan berani dong. Sekeras – kerasnya batu pasti bisa lapuk. Secara perlahan – lahan”, ujar Ibu sambil tersenyum hangat.
***
Keesokan harinya, berbekal beberapa pisang goreng buatan Ibu, aku ingin memulai suatu hubungan yang baik dengan Tari dan yang lain. Aku hanya ingin mereka menyadari sesuatu yang sesungguhnya mereka anggap benar itu salah, salah besar malah.
Aku langsung menuju bangku Tari, aku dan Tari memnang sekelas sejak kelas 2 ini. Aku menyodorkan sebungkus pisang goreng pada Tari. “Tari, ini. . .”, kataku sambil tersenyum berharap Tari akan menghabiskan pisanng goreng itu. Aku ingat Tari sangat suka. Tapi Tari hanya diam saja, ia malah membuka buku dan sibuk menulis – nulis di atasnya. Aku hanya bisa menghela nafas dan beranjak menawarkan pada yang lain. Dan pagi itu merupakan suatu awal yang baik. Karena pisang goreng itu, aku bisa berbicara dengan beberapa temanku yang lain. Hari berikutnya pun aku jadi sering bawa pisang goreng. Aku hanya bisa menghela nafas melihat Tari yang masih berupa batu kokoh.
***
Suatu hari ada ulangan fisika mendadak. Dan dari raut wajah teman – teman sekelas mereka belum belajar. Untungnya tadi malam aku mengerjakan PR yang ternyata dijadikan soal ulangan. Depanku ada Tari, aku tahu dia juga kebingungan. Akhirnya aku memutuskan memberi contekan padanya dengan sukarela, tanpa diminta. Tari sempat menimbang akankah menerima bantuanku atau tidak tapi akhirnya ia memutuskan iya. Seusai ulangan Tari mengucapkan terimakasih padaku, walau hanya satu kata yang terkesan nggak ikhlas. Yes! Setidaknya suatu perubahan. Ibu benar sekeras – kerasnya batu pasti bisa lapuk.
***
Sungguh aku kagum pada Tari, dia berani mencalonkan dirinya seabagi ketua OSIS. Aku tahu Tari memang bisa diandalkan menjadi seorang pemimpin. Jiwa kepemimpinanya terus berkembang sejak masuk SMP. Tapi aneh, kenapa Tari tampak gelisah di bangku kelas sedangkan sebentar lagi ia harus orasi di depan teman – teman.
“Tari, kok kamu nggak siap – siap buat orasi? Malah gelisah, ada apa sih?” Tanyaku. Tari tampak bimbang akan menjawab pertanyaanku tapi ia akhirnya memilih diam dan terus saja gelisah. Aku semakin bingung dibuatnya. “Mungkin ada yang bisa ku bantu? Aku lagi nggak ada kerjaan nih”.
Raut wajah Tari mengeras dan berkata, “Kamu bisa diam nggak sih? Kalau lagi nggak ada kerjaan kamu kan bisa ganggu yang lain nggak usah ganggu aku!”
“Loh, aku nggak berniat ganggu. Aku cuma mau bantu, kamu tampak gelisah dari tadi. Aku ingin kamu bisa orasi dengan lancar”.
Tari diam kemuadian ia melirik jamnya dan berkata, “Aku belum ngerjain laporan kimia dan fisika, sedangkan bukunya ketinggalan di rumah tapi lagi dianterin. Aku juga masih harus orasi”.
“Oke, serahin sama aku. Kamu cukup bersiap buat orasi. Tugasnya biar aku yang selesein. Kamu nggak boleh tegang atau gugup dan jangan sempet – sempetnya mikir tugas. Do the best for the best. Itu kan gunanya sahabat”, kataku bersemangat.
“Apa? Sa – sahabat?” Tanya Tari.
“Mmm. . . ya buatku, selalu selamanya. Udah sana pergi, tugas di kelas aku yang tanggung jawab kamu tanggung jawab yang di lapangan, Oke? Sip!” aku mendorong tubuh Tari agar bersegera keluar kelas. Aku tak bisa mengartikan raut wajah Tari, yah tadi aku memang kelepasan tapi itulah apa adanya. Semoga Tari juga mengharap yang sama denganku, semoga.
***
Tari berhasil jadi ketua OSIS, ia memang hebat. Sudah seminggu berlalu sejak pemilihan aku belum sempat mengucapkan selamat padanya karena aku nggak berangkat karena sakit. Rencananya sepulang sekolah nanti aku akan menemuinya sekaligus memberikan pisang goreng titipan Ibu buat Tari sebagai ucapan selamat. Sungguh aku merasa bersemangat sekali ketika bel pulang sekolah berbunyi. Aku langsung menuju depan sekolah karena Tari sedang rapat OSIS.
Aku menunggu Tari sambil mengobrol dengan beberapa orang temanku. Ya sekarang aku sudah punya banyak teman. Kalau sewaktu kelas 1 aku hanya bisa diam dan pasrah kini kelas 2 aku punya keberanian buat menggapai mereka. Karena mereka yang akan membantuku ketika ku butuhkan dan aku ingin hidupku bisa berguna buat orang – orang yang aku sayang. Begitu juga dengan Tari.
Aku asyik mengobrol hingga tak sadar Tari sudah mau pulang. Ini salah satu yang aku suka dari Tari. Walaupun dia anak dari keluarga yang mampu tapi dia lebih suka kesederhanaan karena itu kami bisa dekat. Dia lebih suka pulang dengan kendaraan umum.
Aku memanggil Tari yang sedang mau menyebrang. Dia menoleh padaku. Tapi apakah itu mimpi atau kenyataan, dia tersenyum padaku. Aku jadi ingin pulang bersamnya lagi. Dulu dia yang sering menyebrangkanku karena aku takut. Tapi senyumku segera lenyap ketika aku sadar Tari sedang berada di tikungan jalan raya dan di sana ada sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Aku langsung berlari dan berteriak. Selanjutnya entah apa yang terjadi, aku nggak tahu bagaimana keadaan Tari. Lagi – lagi karena aku. Yang terang jadi gelap. Dan aku hanya bisa menutup mata dan terjatuh?
***
Namaku Mentari, tapi apa benar aku dipanggil Mentari? Pantaskah aku jadi seorang Mentari? Yang seharusnya bisa memberi kehangatan pada orang – orang dan bisa menyelimuti mereka dalam satu sinar.
Perasaan aneh yang terus bercampur tak bisa ku uraikan apa sebenarnya yang ku rasakan selama belasan tahun. Hari ini tanggal 23 September 2017, sudah 12 tahun berlalu. Mimpi buruk itu belum pernah menjadi fatamorgana. Ketika ku pejamkan mataku, aku bisa merasakan sakitnya terdorong membentur trotoar tapi aku tak bisa mersakan apa yang tengah dirasakan gadis yang ada dihadapanku. Kalau tanganku panjang, aku ingin memegangi tangan gadis itu agar tak terlempar jauh.
Dan ketika ku buka mataku, kata – kata itu terus terngiang sebelum akhirnya suara itu tak pernah terdengar lagi hadir dalam dunia nyataku. “Karena kita sahabat, apapun sikapmu kamu sahabatku. Persahabatan bagai kepompong, pahami teman hadapi perbedaan. Persahabatan bagai kepompong, hal yang tak mudah berubah menjadi indah. Itulah sahabat tar, aku ingin kamu mersakanku lagi menjadi sahabatmu karena aku terus merasa kau sahabatku, selamanya. Persahabatan bagai kepompong mengubah ulat menjadi kupu – kupu. Aku ingin liat kamu jadi kupu – kupu yang indah, yang bisa menghasilkan kepompong lain. Maaf ya Tari buat semuanya, aku nggak bisa jadi kupu – kupu bersamamu. Waktuku hanya cukup untuk jadi kepompong.” Ia tersenyum padaku yang telah menyakitinya, walau dari dulu sebenarnya dalam lubuk hatiku aku percaya pada kejujuran dan ketulusannya. Semua habis waktunya, ketika ku ingin memperbaiki persahabatanku dengan Yani, kepompong kecilku. Maaf. . . (Selesai)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar